Minggu, 29 Oktober 2017
BIMA KOTA TEPIAN AIR
Di ujung timur pulau Sumbawa disitulah kota kecil ku, Kota Bima tercinta berada. Keindahannya mulai tampak terasa ketika aku masuk lewat selatan batas kota pantai Ni’u yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bima yang nota bene adalah merupakan kabupaten induk yang melahirkan kota kecilku. Tepatnya pada tanggal 10 April 2002. Kota kecilku terbentuk dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Presiden tanggal 10 April Tahun 2002 tentang pembentukan Kota Bima. Dengan sendirinya memisahkan diri dari induk semangnya yaitu Kabupaten Bima. Cikal bakal kota kecilku dulu adalah sebuah kota kecamatan yang merupakan ibu kota Kabupaten Bima yakni Kecamatan RasanaE. Dengan tumbuh pesatnya penduduk, perputaran ekonomi, pendidikan, perdagangan dan berbagai sektor lainnya sehingga dipecahlah kecamatan rasanaE ini menjadi beberapa kecamatan sehingga memenuhi syarat terbentuknya sebuah kota. Kota Bima tumbuh dan berkembang bak seorang gadis cantik menawan yang beranjak dewasa yang dijuluki kota tepian air. Sungguh tepat julukannya karena kota kecilku dibalut panorama laut dan pantai yang indah dan eksotik sepanjang lebih kurang 7 Km dari pantai Ni’u sampai pantai Kolo. Siapapun yang berkunjung pasti betah menikmati keindahan pantai / teluk Bima.
Pantai Wadumbolo yang perawan.
Dengan menikmati sun set di pantai Wadumbolo melihat matahari masuk keperaduannya sungguh menambah rasa cinta dan bangga akan kota kecilku. Lalu kakiku melangkah bergeser sedikit kearah utara ada Lawata yang menawan yang sangat pas dijadikan tempat pilihan wisata keluarga, anak-anak, remaja maupun orang tua dapat menikmati mandi dipantai Lawata dengan nyaman. Seiring dengan berkembang dan majunya kotaku, sekarang Lawata lagi berbenah diri sehingga semakin meyakinkan bagi siapa saja untuk menjadikan Lawata sebagai salah satu tujuan Wisata Pantai. Lalu saya bergeser sedikit kearah utara dan sampailah saya di Amahami.
Amahami yang melegenda, Amahami yang memanjakan bagi siapa saja yang berkunjung. Berbagai macam kuliner ada di Amahami. Kalau kita ingin menghilangkan stress ada cafe sehingga kita bisa bernyanyi atau mendengarkan lagu sambil menikmati secangkir kopi/teh. Pandangan mata dimanjakan oleh panorama pantainya yang indah. Di Amahami juga tengah dibangun Masjid terapung sekarang lagi digenjot cepat pembangunannya sehingga tidak lama lagi akan berdiri megah sebuah masjid terapung kebanggaan masyarakatku. Keberadaan masjid terapung ini seakan-akan memberitahukan kepada setiap tamu yang berkunjung ke kotaku, "kami adalah masyarakat religius". Sungguh Amahami tiada duanya.
Bergeser lagi kearah utara aku memasuki area perdagangan /bisnis yang tumbuh pesat merupakan area perdagangan/bisnis terbesar di pulau Sumbawa sehingga tidak keliru para pedagang antar pulau seperti di Nusa Tenggara Timur memilih Kota Bima sebagai tempat membeli grosiran berbagai macam kebutuhan yang akan mereka kapalkan, karena di Kota Bima transportasi darat, laut dan udaranya sangat lancar.
Saya mencoba lebih kearah utara lagi memasuki wisata Ule dengan panorama perpaduan pantai dan pegunungan yang semakin memanjakan terus dan terus sampai pada pantai Kolo dan sekitarnya menampilkan pemandangan yang eksotik,masyarakatnya yang santun dan lugu seakan mempertegas bahwa wisata pantai Kolo memang memiliki ciri khas tersendiri yang tidak ditemukan ditempat wisata manapun.
Libido kekagumanku akan kota kelahiranku semakin menyeruak. Tak terasa kakiku melangkah kearah timur dan ku jumpai berbagai pusat pendidikan yang tumbuh berkembang mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi sehingga generasi muda sepertiku tidak susah lagi merantau untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Semakin ketimur aku berjalan semakin tampak betapa deru laju pembangunan di berbagai bidang benar-benar telah menjadikan kota kecilku sebagai sebuah kota yang patut diperhitungkan dikancah nasional.
Berbicara tentang tumbuh pesatnya pembangunan diberbagai sektor kurang afdol rasanya tanpa kita tahu siapa sang Visioner pemilik tangan dingin yang menjadikan Kota Bima tumbuh pesat seperti ini. Tentu kita semua sepakat yang meletakkan fondasi awalnya adalah Walikota pertama Bapak H.M.Nur A Latief. Kemudian dilanjutkan oleh Bapak H.M.Qurais H Abidin yang berpasangan dengan H. Arahman H. Abidin. Dalam dua periode kepemimpinan kakak beradik ini benar-benar telah mampu membawa/memajukan Kota Bima diberbagai sektor sehingga tampaklah Kota Bima seperti yang kita sama-sama saksikan sekarang ini. Dalam duet kepemimpinan kakak beradik ini Kota Bima kotaku tercinta telah meraih berbagai penghargaan tingkat nasional yang mengantarkan Bapak Walikota ku tercinta Bapak H.M Qurais H. Abidin dapat bersalaman dengan Presiden Jokowi di istana negara. Sungguh aku bangga kini aku tidak sungkan atau malu lagi kalau ditanya oleh saudara sebangsa ku dari daerah lain, kamu dari mana, dengan kepala tegak saya akan menjawab saya berasal dari Kota Bima. Aku cinta kotaku.
Link Instagram : /https://www.instagram.com/miftahul_anam30/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Blog Archive
About Me
Cari Blog Ini
Link Universitas Saya
-
Di ujung timur pulau Sumbawa disitulah kota kecil ku, Kota Bima tercinta berada. Keindahannya mulai tampak terasa ketika aku masuk...
-
Sejarah 1951-1960 Periode Rintisan Periode ini dimulai dengan Penegerian Fakultas Agama Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi Pe...
-
Assalamualaikum. Wr. Wb Perkenalkan nama saya Miftahul Anam, alamat saya sekarang di Yogyakarta, tepatnya Griya Apem no. 64 A GK I...
Halaman
BIMA KOTA TEPIAN AIR
Di ujung timur pulau Sumbawa disitulah kota kecil ku, Kota Bima tercinta berada. Keindahannya mulai tampak terasa ketika aku masuk...


0 komentar:
Posting Komentar