Minggu, 29 Oktober 2017
BIMA KOTA TEPIAN AIR
Di ujung timur pulau Sumbawa disitulah kota kecil ku, Kota Bima tercinta berada. Keindahannya mulai tampak terasa ketika aku masuk lewat selatan batas kota pantai Ni’u yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bima yang nota bene adalah merupakan kabupaten induk yang melahirkan kota kecilku. Tepatnya pada tanggal 10 April 2002. Kota kecilku terbentuk dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Presiden tanggal 10 April Tahun 2002 tentang pembentukan Kota Bima. Dengan sendirinya memisahkan diri dari induk semangnya yaitu Kabupaten Bima. Cikal bakal kota kecilku dulu adalah sebuah kota kecamatan yang merupakan ibu kota Kabupaten Bima yakni Kecamatan RasanaE. Dengan tumbuh pesatnya penduduk, perputaran ekonomi, pendidikan, perdagangan dan berbagai sektor lainnya sehingga dipecahlah kecamatan rasanaE ini menjadi beberapa kecamatan sehingga memenuhi syarat terbentuknya sebuah kota. Kota Bima tumbuh dan berkembang bak seorang gadis cantik menawan yang beranjak dewasa yang dijuluki kota tepian air. Sungguh tepat julukannya karena kota kecilku dibalut panorama laut dan pantai yang indah dan eksotik sepanjang lebih kurang 7 Km dari pantai Ni’u sampai pantai Kolo. Siapapun yang berkunjung pasti betah menikmati keindahan pantai / teluk Bima.
Pantai Wadumbolo yang perawan.
Dengan menikmati sun set di pantai Wadumbolo melihat matahari masuk keperaduannya sungguh menambah rasa cinta dan bangga akan kota kecilku. Lalu kakiku melangkah bergeser sedikit kearah utara ada Lawata yang menawan yang sangat pas dijadikan tempat pilihan wisata keluarga, anak-anak, remaja maupun orang tua dapat menikmati mandi dipantai Lawata dengan nyaman. Seiring dengan berkembang dan majunya kotaku, sekarang Lawata lagi berbenah diri sehingga semakin meyakinkan bagi siapa saja untuk menjadikan Lawata sebagai salah satu tujuan Wisata Pantai. Lalu saya bergeser sedikit kearah utara dan sampailah saya di Amahami.
Amahami yang melegenda, Amahami yang memanjakan bagi siapa saja yang berkunjung. Berbagai macam kuliner ada di Amahami. Kalau kita ingin menghilangkan stress ada cafe sehingga kita bisa bernyanyi atau mendengarkan lagu sambil menikmati secangkir kopi/teh. Pandangan mata dimanjakan oleh panorama pantainya yang indah. Di Amahami juga tengah dibangun Masjid terapung sekarang lagi digenjot cepat pembangunannya sehingga tidak lama lagi akan berdiri megah sebuah masjid terapung kebanggaan masyarakatku. Keberadaan masjid terapung ini seakan-akan memberitahukan kepada setiap tamu yang berkunjung ke kotaku, "kami adalah masyarakat religius". Sungguh Amahami tiada duanya.
Bergeser lagi kearah utara aku memasuki area perdagangan /bisnis yang tumbuh pesat merupakan area perdagangan/bisnis terbesar di pulau Sumbawa sehingga tidak keliru para pedagang antar pulau seperti di Nusa Tenggara Timur memilih Kota Bima sebagai tempat membeli grosiran berbagai macam kebutuhan yang akan mereka kapalkan, karena di Kota Bima transportasi darat, laut dan udaranya sangat lancar.
Saya mencoba lebih kearah utara lagi memasuki wisata Ule dengan panorama perpaduan pantai dan pegunungan yang semakin memanjakan terus dan terus sampai pada pantai Kolo dan sekitarnya menampilkan pemandangan yang eksotik,masyarakatnya yang santun dan lugu seakan mempertegas bahwa wisata pantai Kolo memang memiliki ciri khas tersendiri yang tidak ditemukan ditempat wisata manapun.
Libido kekagumanku akan kota kelahiranku semakin menyeruak. Tak terasa kakiku melangkah kearah timur dan ku jumpai berbagai pusat pendidikan yang tumbuh berkembang mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi sehingga generasi muda sepertiku tidak susah lagi merantau untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Semakin ketimur aku berjalan semakin tampak betapa deru laju pembangunan di berbagai bidang benar-benar telah menjadikan kota kecilku sebagai sebuah kota yang patut diperhitungkan dikancah nasional.
Berbicara tentang tumbuh pesatnya pembangunan diberbagai sektor kurang afdol rasanya tanpa kita tahu siapa sang Visioner pemilik tangan dingin yang menjadikan Kota Bima tumbuh pesat seperti ini. Tentu kita semua sepakat yang meletakkan fondasi awalnya adalah Walikota pertama Bapak H.M.Nur A Latief. Kemudian dilanjutkan oleh Bapak H.M.Qurais H Abidin yang berpasangan dengan H. Arahman H. Abidin. Dalam dua periode kepemimpinan kakak beradik ini benar-benar telah mampu membawa/memajukan Kota Bima diberbagai sektor sehingga tampaklah Kota Bima seperti yang kita sama-sama saksikan sekarang ini. Dalam duet kepemimpinan kakak beradik ini Kota Bima kotaku tercinta telah meraih berbagai penghargaan tingkat nasional yang mengantarkan Bapak Walikota ku tercinta Bapak H.M Qurais H. Abidin dapat bersalaman dengan Presiden Jokowi di istana negara. Sungguh aku bangga kini aku tidak sungkan atau malu lagi kalau ditanya oleh saudara sebangsa ku dari daerah lain, kamu dari mana, dengan kepala tegak saya akan menjawab saya berasal dari Kota Bima. Aku cinta kotaku.
Link Instagram : /https://www.instagram.com/miftahul_anam30/
Senin, 16 Oktober 2017
Sejarah UIN Sunan Kalijaga
Sejarah
1951-1960
Periode Rintisan
Periode ini dimulai dengan Penegerian Fakultas Agama Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang diatur dengan Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 1950 Tanggal 14 Agustus 1950 dan Peresmian PTAIN pada tanggal 26 September 1951. Pada Periode ini, terjadi pula peleburan PTAIN (didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 1950) dan ADIA (didirikan berdasarkan Penetapan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1957) dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 1960 Tanggal 9 Mei 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dengan nama Al-Jami'ah al-Islamiyah al-Hukumiyah. pada periode ini, PTAIN berada di bawah kepemimpinan KHR Moh Adnan (1951-1959) dan Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya (1959-1960)
Periode Rintisan
Periode ini dimulai dengan Penegerian Fakultas Agama Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang diatur dengan Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 1950 Tanggal 14 Agustus 1950 dan Peresmian PTAIN pada tanggal 26 September 1951. Pada Periode ini, terjadi pula peleburan PTAIN (didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 1950) dan ADIA (didirikan berdasarkan Penetapan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1957) dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 1960 Tanggal 9 Mei 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dengan nama Al-Jami'ah al-Islamiyah al-Hukumiyah. pada periode ini, PTAIN berada di bawah kepemimpinan KHR Moh Adnan (1951-1959) dan Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya (1959-1960)
1960-1972
Periode Peletakan Landasan
Periode ini ditandai dengan Peresmian IAIN pada tanggal 24 Agustus 1960. Pada periode ini, terjadi pemisahan IAIN. Pertama berpusat di Yogyakarta dan kedua, berpusat di Jakarta berdasarkan Keputusan Agama Nomor 49 Tahun 1963 Tanggal 25 Februari 1963. Pada periode ini, IAIN Yogyakarta diberi nama IAIN Sunan Kalijaga berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 26 Tahun 1965 Tanggal 1 Juli 1965. Pada periode ini telah dilakukan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, dimulai dengan pemindahan kampus lama (di Jalan Simanjuntak, yang sekarang menjadi gedung MAN 1 Yogyakarta ) ke kampus baru yang jauh lebih luas (di Jalan Marsda Adisucipto Yogyakarta). Sejumlah gedung fakultas dibangun dan di tengah-tengahnya dibangun pula sebuah masjid yang masih berdiri kokoh. Sistem pendidikan yang berlaku pada periode ini masih bersifat 'bebas' karena mahasiswa diberi kesempatan untuk maju ujian setelah mereka benar-benar mempersiapkan diri. Adapun materi kurikulumnya masih mengacu pada kurikulum Timur Tengah (Universitas Al-Azhar, Mesir) yang telah dikembangkan pada masa PTAIN. Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga berada di bawah kepemimpinan Prof. RHA Soenarjo, SH (1960-1972).
Periode Peletakan Landasan
Periode ini ditandai dengan Peresmian IAIN pada tanggal 24 Agustus 1960. Pada periode ini, terjadi pemisahan IAIN. Pertama berpusat di Yogyakarta dan kedua, berpusat di Jakarta berdasarkan Keputusan Agama Nomor 49 Tahun 1963 Tanggal 25 Februari 1963. Pada periode ini, IAIN Yogyakarta diberi nama IAIN Sunan Kalijaga berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 26 Tahun 1965 Tanggal 1 Juli 1965. Pada periode ini telah dilakukan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, dimulai dengan pemindahan kampus lama (di Jalan Simanjuntak, yang sekarang menjadi gedung MAN 1 Yogyakarta ) ke kampus baru yang jauh lebih luas (di Jalan Marsda Adisucipto Yogyakarta). Sejumlah gedung fakultas dibangun dan di tengah-tengahnya dibangun pula sebuah masjid yang masih berdiri kokoh. Sistem pendidikan yang berlaku pada periode ini masih bersifat 'bebas' karena mahasiswa diberi kesempatan untuk maju ujian setelah mereka benar-benar mempersiapkan diri. Adapun materi kurikulumnya masih mengacu pada kurikulum Timur Tengah (Universitas Al-Azhar, Mesir) yang telah dikembangkan pada masa PTAIN. Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga berada di bawah kepemimpinan Prof. RHA Soenarjo, SH (1960-1972).
1972-1996
Periode Peletakan Landasan Akademik
Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga dipimpin secara berturut-turut oleh Kolonel Drs. H. Bakri Syahid (1972-1976), Prof. H. Zaini Dahlan, MA (selama 2 masa jabatan: 1976-1980 dan 1980-1983), Prof. Dr. HA Mu'in Umar (1983-1992) dan Prof. Dr. Simuh (1992-1996). Pada periodeini, pembangunan sarana prasarana fisik kampus meliputi pembangunan gedung Fakultas Dakwah, Perpustakaan, Program Pascasarjana, dan Rektorat dilanjutkan. Sistem pendidikan yang digunakan pada periode ini mulai bergeser dari 'sistem liberal' ke 'sistem terpimpin' dengan mengintrodusir 'sistem semester semu' dan akhirnya 'sistem kredit semester murni'. Dari segi kurikulum, IAIN Sunan Kalijaga telah mengalami penyesuaian yang radikal dengan kebutuhan nasional bangsa Indonesia. Jumlah fakultas bertambah menjadi 5 (lima); yaitu Fakultas Adab, Dakwah, Syari'ah, Tarbiyah dan Ushuluddin. Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga dibuka pada periode ini, tepatnya pada tahun akademik 1983/1984. Program Pascasarjana ini telah diawali dengan kegiatan-kegiatan akademik dalam bentuk short courses on Islamic studies dengan nama Post Graduate Course (PGC) dan Studi Purna Sarjana (PPS) yang diselenggarakan tanpa pemberian gelar setingkat Master. Untuk itu, pembukaan Program pAscasarjana pada dasawarsa delapan puluhan tersebut telah mengukuhkan fungsi IAIN Sunan Kalijaga sebagai lembaga akademik tingkat tinggi setingkat di atas Program Strata Satu.
Periode Peletakan Landasan Akademik
Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga dipimpin secara berturut-turut oleh Kolonel Drs. H. Bakri Syahid (1972-1976), Prof. H. Zaini Dahlan, MA (selama 2 masa jabatan: 1976-1980 dan 1980-1983), Prof. Dr. HA Mu'in Umar (1983-1992) dan Prof. Dr. Simuh (1992-1996). Pada periodeini, pembangunan sarana prasarana fisik kampus meliputi pembangunan gedung Fakultas Dakwah, Perpustakaan, Program Pascasarjana, dan Rektorat dilanjutkan. Sistem pendidikan yang digunakan pada periode ini mulai bergeser dari 'sistem liberal' ke 'sistem terpimpin' dengan mengintrodusir 'sistem semester semu' dan akhirnya 'sistem kredit semester murni'. Dari segi kurikulum, IAIN Sunan Kalijaga telah mengalami penyesuaian yang radikal dengan kebutuhan nasional bangsa Indonesia. Jumlah fakultas bertambah menjadi 5 (lima); yaitu Fakultas Adab, Dakwah, Syari'ah, Tarbiyah dan Ushuluddin. Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga dibuka pada periode ini, tepatnya pada tahun akademik 1983/1984. Program Pascasarjana ini telah diawali dengan kegiatan-kegiatan akademik dalam bentuk short courses on Islamic studies dengan nama Post Graduate Course (PGC) dan Studi Purna Sarjana (PPS) yang diselenggarakan tanpa pemberian gelar setingkat Master. Untuk itu, pembukaan Program pAscasarjana pada dasawarsa delapan puluhan tersebut telah mengukuhkan fungsi IAIN Sunan Kalijaga sebagai lembaga akademik tingkat tinggi setingkat di atas Program Strata Satu.
1996-2001
Periode Pemantapan Akademik dan Manajemen
Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga berada di bawah kepemimpinan Prof. Dr. HM. Atho Mudzhar (1997-2001). Pada periode ini, upaya peningkatan mutu akademik, khususnya mutu dosen (tenaga edukatif) dan mutu alumni, terus dilanjutkan. Para dosen dalam jumlah yang besar didorong dan diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi, baik untuk tingkat Magister (S2) maupun Doktor (S3) dalam berbagai disiplin ilmu, baik di dalam maupun di luar negeri. Demikian pula peningkatan sumber daya manusia bagi tenaga administratif dilakukan untuk meningkatkan kualitas manajemen dan pelayanan administrasi akademik. Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga semakin berkonsentrasi untuk meningkatkan orientasi akademiknya dan mengokohkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan tinggi. Jumlah tenaga dosen yang bergelar Doktor dan Guru Besar meningkat disertai dengan peningkatan dalam jumlah koleksi perpustakaan dan sistem layanannya.
Periode Pemantapan Akademik dan Manajemen
Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga berada di bawah kepemimpinan Prof. Dr. HM. Atho Mudzhar (1997-2001). Pada periode ini, upaya peningkatan mutu akademik, khususnya mutu dosen (tenaga edukatif) dan mutu alumni, terus dilanjutkan. Para dosen dalam jumlah yang besar didorong dan diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi, baik untuk tingkat Magister (S2) maupun Doktor (S3) dalam berbagai disiplin ilmu, baik di dalam maupun di luar negeri. Demikian pula peningkatan sumber daya manusia bagi tenaga administratif dilakukan untuk meningkatkan kualitas manajemen dan pelayanan administrasi akademik. Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga semakin berkonsentrasi untuk meningkatkan orientasi akademiknya dan mengokohkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan tinggi. Jumlah tenaga dosen yang bergelar Doktor dan Guru Besar meningkat disertai dengan peningkatan dalam jumlah koleksi perpustakaan dan sistem layanannya.
2001-2010
Periode Pengembangan Kelembagaan
Periode ini dapat disebut sebagai 'Periode Trasformasi', karena, pada periode ini telah terjadi peristiwa penting dalam perkembangan kelembagaan pendidikan tinggi Islam tertua di tanah air, yaitu Transformasi Institut Agama ISlam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 2004 Tanggal 21 Juni 2004. Deklarasi UIN Sunan Kalijaga dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2004. Periode ini di bawah kepemimpinan Prof. Dr. HM. Amin Abdullah (2001-2005) dengan Pembantu Rektor Bidang Akademik Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, MA., Ph.D, Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Drs. H. Masyhudi, BBA, M.Si. dan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Dr. H. Ismail Lubis, MA (Almarhum) yang kemudian digantikan oleh Dr. Maragustam Siregar, MA.
Pada periode kedua (2006-2010) dari kepemimpinan Prof. Dr. HM. Amin Abdullah telah dibentuk Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama. Dengan ditetapkannya keberadaan Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama, maka kepemimpinan UIN Sunan Kalijaga pada periode kedua ini adalah sebagai berikut : PEmbantu Rektor Bidang Akademik, Dr. H. Sukamta, MA, Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum, Dr. H. Tasman Hamami, MA, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Maragustam Siregar, MA, dan Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama dijabat oleh Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, MA.
Perubahan Institut menjadi universitas dilakukan untuk mencanangkan sebuah paradigma baru dalam melihat dan melakukan studi terhadap ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, yaitu paradigma Integrasi interkoneksi. Paradigma ini mensyaratkan adanya upaya untuk mendialogkan secara terbuka dan intensif antara hadlarah an-nas, hadlarah al-ilm, dan hadlarah al-falsafah. Dengan paradigma ini, UIN Sunan Kalijaga semakin menegaskan kepeduliannya terhadap perkembangan masyarakat muslim khususnya dan masyarakat umum pada umumnya. Pemaduan dan pengaitan kedua bidang studi yang sebelumnya dipandang secara dimatral berbeda memungkinkan lahirnya pemahaman Islam yang ramah, demokratis, dan menjadi rahmatan lil 'alamin.
Periode Pengembangan Kelembagaan
Periode ini dapat disebut sebagai 'Periode Trasformasi', karena, pada periode ini telah terjadi peristiwa penting dalam perkembangan kelembagaan pendidikan tinggi Islam tertua di tanah air, yaitu Transformasi Institut Agama ISlam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 2004 Tanggal 21 Juni 2004. Deklarasi UIN Sunan Kalijaga dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2004. Periode ini di bawah kepemimpinan Prof. Dr. HM. Amin Abdullah (2001-2005) dengan Pembantu Rektor Bidang Akademik Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, MA., Ph.D, Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Drs. H. Masyhudi, BBA, M.Si. dan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Dr. H. Ismail Lubis, MA (Almarhum) yang kemudian digantikan oleh Dr. Maragustam Siregar, MA.
Pada periode kedua (2006-2010) dari kepemimpinan Prof. Dr. HM. Amin Abdullah telah dibentuk Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama. Dengan ditetapkannya keberadaan Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama, maka kepemimpinan UIN Sunan Kalijaga pada periode kedua ini adalah sebagai berikut : PEmbantu Rektor Bidang Akademik, Dr. H. Sukamta, MA, Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum, Dr. H. Tasman Hamami, MA, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Maragustam Siregar, MA, dan Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama dijabat oleh Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, MA.
Perubahan Institut menjadi universitas dilakukan untuk mencanangkan sebuah paradigma baru dalam melihat dan melakukan studi terhadap ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, yaitu paradigma Integrasi interkoneksi. Paradigma ini mensyaratkan adanya upaya untuk mendialogkan secara terbuka dan intensif antara hadlarah an-nas, hadlarah al-ilm, dan hadlarah al-falsafah. Dengan paradigma ini, UIN Sunan Kalijaga semakin menegaskan kepeduliannya terhadap perkembangan masyarakat muslim khususnya dan masyarakat umum pada umumnya. Pemaduan dan pengaitan kedua bidang studi yang sebelumnya dipandang secara dimatral berbeda memungkinkan lahirnya pemahaman Islam yang ramah, demokratis, dan menjadi rahmatan lil 'alamin.
2010-2014
Periode Kebersamaan dan Kesejahteraan
Berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI
Nomor : B.II/3/16522/2010 Tanggal 6 Desember 2010, Guru Besar Fakultas
Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam diberi tugas tambahan
sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masa jabatan 2010-2014.
Periode di bawah kepemimpinan Prof. Dr. H. Musa Asy’arie dibantu oleh
empat Pembantu Rektor yaitu: Pembantu Rektor Bidang Akademik Dr. Sekar
Ayu Aryani, M.Ag., Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Prof. Dr. H.
Nizar, M.Ag,. Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr. H. Ahmad Rifai,.
M.Phil., dan Pembantu Rektor Bidang Kerjasama, Prof. Dr. H. Siswanto
Masruri, M.A.
Seiring dengan perkembangan jaman dan
dalam rangka meningkatkan mutu penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan
tinggi, dinilai organisasi tata kerja Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga Yogyakarta perlu ditata kembali. Oleh karena itu, Organisasi
Tata Kerja Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga mengalami perubahan
berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 26 Tahun 2013. Sesuai dengan
Organisasi Tata Kerja Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga yang baru,
dalam melaksanakan tugasnya, Rektor dibantu oleh tiga Wakil Rektor
yaitu: Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Dr. Sekar Ayu
Aryani, M.Ag., Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan
Keuangan, Prof. Dr. H. Nizar, M.Ag.,dan wakil Rektor Bidang Kelembagaan
dan Kerja sama Dr. H. Maksudin, MA.
Assalamualaikum. Wr. Wb
Perkenalkan nama saya Miftahul Anam, alamat saya sekarang di Yogyakarta, tepatnya Griya Apem no. 64 A GK III depan Kopma UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Alamat asli saya di Jl. Muhajirin I RT 01 / RW 01 Kel. Rabangodu Utara Kec. Raba Kota Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat, saya lahir di Bima tanggal 30 bulan Juni tahun 1999, saya alumni MAN 2 Kota Bima, saya sekarang mengambil Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.
demikian perkenalan singkat saya dengan para pembaca semuanya, semoga bermanfaat
Wassaalamualaikum. Wr. Wb
Berikut video tentang profil UIN Sunan Kalijaga
Langganan:
Komentar (Atom)
Blog Archive
About Me
Cari Blog Ini
Link Universitas Saya
Halaman
BIMA KOTA TEPIAN AIR
Di ujung timur pulau Sumbawa disitulah kota kecil ku, Kota Bima tercinta berada. Keindahannya mulai tampak terasa ketika aku masuk...




